Urine merupakan cairan sisa hasil proses metabolisme tubuh yang kaya akan zat ekskresi dan sudah tidak diperlukan lagi oleh tubuh, sehingga harus dikeluarkan melalui sistem urinaria. Secara klinis, komposisi materi di dalam urine dapat menjadi indikator utama untuk mendeteksi kondisi fisiologis tubuh serta menentukan apakah sistem metabolisme seseorang berada dalam kondisi sehat atau mengalami gangguan.
Melalui rangkaian aktivitas laboratorium ini, praktikan akan melakukan serangkaian uji biokimia untuk mengidentifikasi karakteristik fisik dan kimiawi sampel. Tujuan utama dari praktikum ini adalah untuk mengukur kadar tingkat pH urine, mendeteksi keberadaan senyawa urea (melalui pelepasan gas amonia) dan ion klorida, serta menganalisis potensi kelainan fungsi organ ginjal berdasarkan uji klinis yang dilakukan.
- Celupkan selembar kertas indikator universal ke dalam wadah berisi sampel urine selama beberapa detik.
- Amati perubahan gradasi warna yang terbentuk pada area strip indikator.
- Cocokkan perubahan warna tersebut dengan bagan standar parameter pH yang tersedia.
- Catat nilai pH-nya dan analisis maknanya terhadap kondisi kesehatan tubuh.
- Masukkan sebanyak 1 mL sampel urine ke dalam tabung reaksi yang bersih.
- Jepit tabung tersebut, lalu panaskan secara perlahan di atas nyala api pembakar Bunsen.
- Kibaskan tangan di atas mulut tabung secara hati-hati untuk mengidentifikasi aroma gas yang keluar. Bagaimana karakteristik baunya?
- Tuangkan sebanyak 2 mL cairan urine ke dalam tabung reaksi.
- Tambahkan 5 tetes larutan reagen $AgNO_3$ 5% ke dalam sampel tersebut.
- Amati perubahan fisik yang terjadi di dalam tabung. Mengapa reaksi tersebut dapat terjadi? Jelaskan hubungannya dengan pembentukan endapan!
- Isilah tabung reaksi kosong dengan sampel urine sebanyak 2 mL.
- Tambahkan 5 tetes larutan Benedict (atau kombinasi larutan Fehling A dan B dengan volume setara).
- Panaskan tabung reaksi di atas nyala api Bunsen, amati perubahan warna larutan, lalu catat hasil akhirnya.
- Apakah kesimpulan Anda mengenai kadar glukosa dalam sampel urine tersebut? Jelaskan analisisnya!
- Masukkan sebanyak 2 mL urine ke dalam tabung reaksi yang baru.
- Tambahkan 5 tetes reagen Biuret secara perlahan, lalu diamkan campuran selama kurang lebih 5 menit.
- Amati perubahan warna yang terbentuk dan catat hasilnya pada lembar kerja.
- Kesimpulan apa yang dapat Anda simpulkan dari hasil uji protein ini? Berikan argumentasi ilmiahnya!
Gambar 2: Format tabel standardisasi pengujian kualitatif urine berdasarkan aspek indikator parameter klinis.
- Albuminuria: Kondisi tidak normal akibat ditemukannya kandungan protein di dalam urine, menandakan kebocoran pada filter glomerulus ginjal.
- Diabetes Mellitus: Kondisi tingginya kadar glukosa di dalam urine akibat kegagalan proses reabsorpsi pada tubulus proksimal.
- Hematuria: Ditemukannya sel-sel darah merah di dalam urine, mengindikasikan adanya iritasi atau peradangan pada saluran kemih maupun ginjal.