Protoplasma merupakan substansi dasar sel hidup. Di dalam sistem ini, protoplasma aktif melakukan berbagai reaksi kimia kompleks dengan bantuan biokatalisator organik yang dikenal sebagai enzim.
Enzim sendiri merupakan senyawa protein spesifik yang dibentuk oleh organisme hidup. Jika kita sebelumnya telah mengenal enzim pencernaan yang bekerja di luar lingkungan sel (ekstrasel), maka di dalam tubuh sebenarnya jauh lebih banyak variasi enzim yang bertugas aktif bekerja di dalam kompartemen internal sel (intrasel).
Salah satu senyawa sampingan yang aktif dan berbahaya adalah Hidrogen Peroksida (H2O2). Zat ini terus-menerus terbentuk di dalam sel hidup sebagai produk sisa (by-product) dari jalur metabolisme respirasi seluler. Bila tidak segera dibuang atau diuraikan oleh sistem sel, zat yang bersifat radikal bebas dan racun ini akan memicu stres oksidatif yang merusak sel itu sendiri. Beruntung, dengan adanya keberadaan komponen Enzim Katalase di dalam sel, senyawa Hidrogen Peroksida tersebut dapat dinetralkan dengan cepat menjadi zat-zat baru yang sepenuhnya tidak merugikan jaringan tubuh.
Melalui prosedur eksperimen ilmiah ini, kita akan menyelidiki karakteristik, keberadaan, serta mekanisme kerja dari salah satu jenis enzim intrasel vital tersebut, yaitu enzim katalase.
Gambar 1: Ilustrasi konformasi struktural molekul enzim saat mengikat substrat spesifik pada sisi aktifnya.Sumber: pixels.com
- Beri label kode penanda berupa angka 1, 2, 3, dan 4 pada dinding masing-masing tabung reaksi.
- Isilah setiap tabung reaksi tersebut dengan sampel cairan ekstrak hati setinggi kira-kira ± 1 mL.
- Tambahkan perlakuan variasi zat kimia pembentuk suasana lingkungan sebagai berikut:
- Tabung 1: Tambahkan 5 tetes larutan H2O2 10%, segera sumbat lubang tabung rapat-rapat dengan ibu jari. Amati laju reaksinya (Perlakuan ini dianggap sebagai indikator kontrol suasana netral).
- Tabung 2: Tambahkan beberapa tetes larutan HCl 5% untuk menciptakan suasana lingkungan asam ekstrem, lalu berikan larutan H2O2 10%. Sumbat lubang menggunakan ibu jari dan amati perubahannya.
- Tabung 3: Tambahkan 10 tetes larutan NaOH 5% untuk mengondisikan suasana lingkungan basa kuat, lalu berikan larutan H2O2 10%. Sumbat lubang segera dengan ibu jari dan amati gejalanya.
- Tabung 4: Isilah dengan sampel ekstrak hati yang sebelumnya telah dipanaskan terlebih dahulu di atas api bunsen, lalu berikan larutan H2O2 10%. Sumbat lubang tabung dan amati efeknya.
- Tunggu hingga reaksi internal terjadi di dalam masing-masing tabung, kemudian lakukan pengujian keberadaan gas secara langsung dengan memasukkan ujung batang lidi yang masih membara ke dalam mulut tabung reaksi.
- Ulangi seluruh rangkaian urutan langkah kerja di atas dari awal dengan mengganti penggunaan bahan dasar ekstrak hati menggunakan sampel ekstrak jantung. Amati, dokumentasikan, dan bandingkan perbedaannya.
- Isilah draf lembar tabel data pengamatan di bawah ini secara objektif berdasarkan hasil pengujian laboratorium yang diperoleh.
Petunjuk Pengisian Tabel: Bubuhkan parameter tanda positif tunggal (+) jika reaksi gelembung/bara api tergolong ada, tanda dobel (++) jika jumlahnya sangat melimpah, atau tanda minus (-) jika tidak terdeteksi adanya reaksi.
Gambar 2: Rumus persamaan reaksi pemecahan senyawa toksik $H_2O_2$ oleh biokatalisator katalase menjadi molekul air dan gas oksigen bebas.
➔ Analisis Faktor pH: Berdasarkan data pembanding, dalam kondisi lingkungan terkontrol (Netral), proses pembentukan busa dan nyala api berjalan sangat masif dan optimal. Sebaliknya, ketika sistem diubah menjadi bersifat terlalu asam (ditambah HCl) atau terlalu basa (ditambah NaOH), produktivitas gelembung oksigen menyusut drastis. Hal ini membuktikan bahwa struktur enzim katalase mengalami hambatan fungsi di luar rentang pH idealnya.
➔ Analisis Faktor Suhu: Panas ekstrem memicu kerusakan permanen. Ketika komponen ekstrak hati dipanaskan terlebih dahulu, gelembung gas oksigen yang terbentuk pasca-reaksi menjadi sangat minim atau bahkan hilang. Ini terjadi karena protein penyusun kompartemen enzim mengalami denaturasi (kerusakan konformasi struktural akibat paparan suhu tinggi).
➔ Analisis Faktor Konsentrasi / Organ: Jumlah ketersediaan molekul enzim memengaruhi intensitas reaksi. Jaringan hati secara biologis memiliki kerapatan densitas sel dan konsentrasi enzim katalase yang jauh lebih melimpah dibandingkan dengan jaringan otot jantung. Akibatnya, akumulasi gelembung gas yang diproduksi oleh sampel hati jauh lebih masif daripada sampel jantung.