Mari kita latihan soal SISTEM EKSKRESI
Soal 1: Seorang pasien mengalami gangguan pada pars ascendens lengkung Henle sehingga proses transpor aktif Na⁺ dan Cl⁻ tidak berjalan optimal. Dokter menduga kondisi ini akan memengaruhi mekanisme homeostasis cairan tubuh. Perubahan yang terjadi pada komposisi dan volume urin pasien tersebut adalah …
- A. Urin menjadi lebih pekat karena reabsorpsi air meningkat
- B. Urin mengandung glukosa karena kegagalan filtrasi
- C. Urin menjadi lebih encer akibat terganggunya gradien osmotik medula
- D. Volume urin menurun karena filtrasi meningkat
- E. Urin mengandung protein akibat rusaknya glomerulus
Jawaban: C
Pembahasan:
Pars ascendens lengkung Henle berfungsi mereabsorpsi Na⁺ dan Cl⁻ secara aktif tetapi tidak permeabel terhadap air. Gangguan pada bagian ini menyebabkan gradien osmotik medula tidak terbentuk optimal sehingga reabsorpsi air menurun dan urin menjadi lebih encer.
Soal 2: perhatikan perbandingan dua jenis nefron pada tabel berikut!
Jika seseorang mengalami dehidrasi berat, nefron yang paling berperan mempertahankan air tubuh adalah …- A. Nefron korteks karena jumlahnya lebih banyak
- B. Nefron juksta medula karena lengkung Henle panjang
- C. Nefron korteks karena filtrasi lebih tinggi
- D. Semua nefron bekerja sama tanpa perbedaan fungsi
- E. Tubulus kolektivus saja yang berperan
Jawaban: B
Pembahasan:
Nefron jukstamedula memiliki lengkung Henle panjang yang membentuk gradien osmotik medula sehingga reabsorpsi air berlangsung maksimal.
Soal 3: Perhatikan bagan berikut!
Jika seorang ahli merancang ginjal buatan agar zat beracun dapat disaring dari darah, bagian yang harus ditiru paling presisi adalah …- A. Pelvis renalis
- B. Tubulus kolektivus
- C. Glomerulus dan kapsula Bowman
- D. Ureter
- E. Papilla ginjal
Jawaban: C
Pembahasan:
Proses filtrasi darah terjadi di glomerulus dan kapsula Bowman, sehingga bagian inilah yang harus ditiru dalam ginjal buatan.
Soal 4: Perhatikan gambar berikut ini!
Jika terjadi penyumbatan pada pelvis renalis, maka dampak yang terjadi pada sistem ekskresi adalah …- A. Produksi urin meningkat
- B. Filtrasi darah terganggu langsung
- C. Urin tidak dapat dialirkan ke ureter
- D. Reabsorpsi glukosa berhenti
- E. Tekanan darah turun
Jawaban: C
Pembahasan:
Pelvis renalis berfungsi menampung urin sebelum dialirkan ke ureter. Penyumbatan menyebabkan urin tertahan dan tidak dapat mengalir ke ureter.
Soal 5: Seorang pasien datang ke puskesmas dengan keluhan sering buang air kecil dan cepat merasa haus. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar glukosa darah pasien sangat tinggi. Pada pemeriksaan urin, ditemukan adanya glukosa yang seharusnya tidak terdapat dalam urin normal. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses reabsorpsi zat tertentu di ginjal tidak berjalan dengan baik. Bagian nefron yang mengalami gangguan adalah …
- A. Glomerulus
- B. Tubulus kontortus proksimal
- C. Lengkung Henle
- D. Tubulus distal
- E. Pelvis renalis
Jawaban: B
Pembahasan:
Reabsorpsi glukosa terjadi di tubulus kontortus proksimal melalui transpor aktif. Gangguan pada bagian ini menyebabkan glukosa muncul dalam urin.
Soal 6: Perhatikan gambar berikut ini!
Jika fungsi hormon eritropoietin terganggu akibat kerusakan ginjal, maka efek lanjutannya adalah …- A. Dehidrasi
- B. Anemia
- C. Hipertensi
- D. Diabetes
- E. Batu ginjal
Jawaban: B
Pembahasan:
Eritropoietin merangsang pembentukan sel darah merah. Gangguan hormon ini menyebabkan produksi eritrosit menurun sehingga terjadi anemia.
Soal 7: Seorang pasien mengalami kecelakaan yang menyebabkan kerusakan berat pada bagian medula ginjal. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ginjal masih mampu melakukan filtrasi darah di glomerulus, namun pasien mengalami kesulitan dalam menghasilkan urin yang pekat meskipun tubuhnya mengalami dehidrasi. Kadar air dan garam dalam urin menjadi sulit diatur. Berdasarkan kondisi tersebut, kemampuan ginjal yang paling terganggu akibat kerusakan medula ginjal adalah …
- A. Filtrasi darah
- B. Produksi hormon
- C. Pembentukan gradien osmotik urin
- D. Pengeluaran ureum
- E. Pembentukan glomerulus
Jawaban: C
Pembahasan:
Medula ginjal berperan dalam pembentukan gradien osmotik melalui mekanisme arus balik yang penting untuk pemekatan urin.
Soal 8: Pengembangan ginjal buatan bertujuan membantu pasien gagal ginjal agar tetap mampu mempertahankan keseimbangan cairan tubuh. Salah satu tantangan utama dalam pengembangannya adalah menciptakan sistem yang mampu menghasilkan urin sangat pekat saat tubuh kekurangan air, sehingga kehilangan air dapat diminimalkan. Sistem tersebut harus mampu membentuk gradien osmotik tinggi yang memungkinkan terjadinya reabsorpsi air secara maksimal. Modifikasi paling efektif untuk meningkatkan kemampuan ginjal buatan dalam menghemat air tubuh adalah dengan meniru karakteristik …
- A. Nefron korteks
- B. Nefron juksta medula
- C. Kapsula Bowman
- D. Papilla ginjal
- E. Pelvis renalis
Jawaban: B
Pembahasan:
Nefron jukstamedula memiliki lengkung Henle panjang dan mekanisme arus balik yang efektif untuk menghemat air tubuh.
Soal 9: Perhatikan bagan berikut ini!
Jika terjadi kebocoran pada tubulus ginjal, maka kemungkinan terbesar yang terjadi adalah …- A. Darah tidak dapat disaring
- B. Zat berguna ikut terbuang bersama urin
- C. Ureter tersumbat
- D. Eritrosit pecah
- E. Produksi hormon meningkat
Jawaban: B
Pembahasan:
Tubulus berfungsi mereabsorpsi zat penting. Kerusakan menyebabkan zat berguna ikut terbuang bersama urin.
Soal 10: Seorang pasien dengan gangguan fungsi ginjal kronis mengalami penurunan kemampuan nefron dalam mengekskresikan ion hidrogen (H⁺) dan mengatur kadar bikarbonat (HCO₃⁻) dalam darah. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan pH darah pasien lebih rendah dari normal dan pasien tampak lemas serta mengalami gangguan pernapasan kompensatorik. Berdasarkan kondisi tersebut, jika fungsi ginjal dalam menjaga keseimbangan asam–basa darah terganggu, kondisi yang kemungkinan muncul adalah …
- A. Hipotermia
- B. Asidosis atau alkalosis darah
- C. Hiperglikemia
- D. Hemofilia
- E. Aterosklerosis
Jawaban: B
Pembahasan:
Ginjal mengatur pH darah melalui ekskresi ion H⁺ dan pengaturan bikarbonat. Gangguan fungsi ini menyebabkan asidosis atau alkalosis.
Soal 11 : Seorang pasien mengalami kerusakan pada kelenjar hipofisis sehingga produksi hormon ADH sangat rendah. Perubahan yang terjadi pada proses pembentukan urin adalah ….
- A. Reabsorpsi glukosa di tubulus proksimal meningkat
- B. Reabsorpsi air di tubulus distal terhambat sehingga volume urin meningkat
- C. Reabsorpsi air di tubulus proksimal berhenti total
- D. Konsentrasi urea dalam darah menurun drastis
- E. Filtrasi glomerulus tidak terjadi
Jawaban: B
Pembahasan:
Hormon ADH berperan mengatur reabsorpsi air di tubulus distal. Jika kadar ADH rendah, reabsorpsi air menurun sehingga volume urin meningkat.
Soal 12: Perhatikan pernyataan berikut:
1) Air direabsorpsi secara obligat
2) Air direabsorpsi tergantung kebutuhan tubuh
3) Dipengaruhi hormon ADH
4) Terjadi difusi glukosa dan asam amino
Pasangan pernyataan yang tepat untuk tubulus kontortus distal adalah ….
- A. 1 dan 4
- B. 2 dan 3
- C. 1 dan 3
- D. 2 dan 4
- E. 3 dan 4
Jawaban: B
Pembahasan:
Tubulus kontortus distal melakukan reabsorpsi air secara fakultatif dan dipengaruhi hormon ADH.
Soal 13: Seorang atlet mengikuti latihan intensif dalam waktu lama tanpa disertai asupan cairan yang cukup. Akibatnya, tubuh mengalami dehidrasi berat yang ditandai dengan penurunan volume cairan tubuh dan meningkatnya osmolaritas darah. Kondisi ini merangsang peningkatan sekresi hormon antidiuretik (ADH) oleh kelenjar hipofisis sehingga ginjal berusaha mempertahankan air sebanyak mungkin. Berdasarkan kondisi tersebut, respons ginjal terhadap keadaan dehidrasi adalah ….
- A. Urin menjadi encer karena reabsorpsi air menurun
- B. Volume urin bertambah karena filtrasi meningkat
- C. Urin menjadi lebih pekat akibat meningkatnya reabsorpsi air
- D. Kandungan glukosa dalam urin meningkat
- E. Pembentukan urin primer dihentikan
Jawaban: C
Pembahasan:
Dehidrasi meningkatkan sekresi ADH sehingga reabsorpsi air meningkat dan urin menjadi lebih pekat.
Soal 14: Seorang pasien menjalani pemeriksaan fungsi ginjal. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa proses filtrasi darah di glomerulus berlangsung normal. Namun, pada pemeriksaan urin sekunder masih ditemukan adanya glukosa dalam jumlah yang cukup tinggi. Padahal, dalam kondisi normal, seluruh glukosa seharusnya telah diserap kembali ke dalam darah pada tahap reabsorpsi. Berdasarkan kondisi tersebut, jika glukosa masih ditemukan dalam urin sekunder, maka gangguan paling mungkin terjadi pada ….
- A. Glomerulus
- B. Lengkung Henle
- C. Tubulus kontortus proksimal
- D. Tubulus kontortus distal
- E. Kandung kemih
Jawaban: C
Pembahasan:
Glukosa direabsorpsi secara aktif di tubulus kontortus proksimal. Jika masih ditemukan dalam urin sekunder, berarti reabsorpsi di bagian ini terganggu.
Soal 15: Seorang pasien dengan tekanan darah tinggi diresepkan obat diuretik oleh dokter untuk membantu menurunkan volume cairan tubuh. Setelah beberapa hari penggunaan obat, pasien mengalami peningkatan frekuensi buang air kecil dan volume urin yang lebih banyak. Obat tersebut bekerja dengan memengaruhi proses reabsorpsi air pada bagian tertentu nefron yang dikendalikan oleh hormon. Berdasarkan stimulus tersebut, target kerja yang paling efektif dari obat diuretik untuk meningkatkan volume urin adalah …
- A. Menghambat difusi glukosa di tubulus proksimal
- B. Menghambat osmosis air di glomerulus
- C. Menghambat kerja hormon ADH di tubulus distal
- D. Meningkatkan reabsorpsi vitamin di lengkung Henle
- E. Meningkatkan filtrasi protein
Jawaban: C
Pembahasan:
ADH mengatur reabsorpsi air di tubulus distal. Penghambatan ADH menyebabkan reabsorpsi air menurun sehingga volume urin meningkat.
Soal 16: Seorang pasien mengalami gangguan fungsi ginjal dengan keluhan sering buang air kecil dan urin yang sangat encer. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kadar hormon ADH dalam darah berada pada tingkat normal. Namun, hasil analisis urin menunjukkan bahwa reabsorpsi air di tubulus distal tidak berlangsung sebagaimana mestinya, sehingga tubuh tetap kehilangan banyak cairan. Berdasarkan kondisi tersebut, reabsorpsi air di tubulus distal tidak terjadi meskipun kadar ADH normal. Kesimpulan paling tepat adalah ….
- A. Tubulus proksimal rusak
- B. Tubulus distal tidak memiliki reseptor ADH
- C. Tubuh kekurangan air
- D. Filtrasi glomerulus menurun
- E. Reabsorpsi obligat meningkat
Jawaban: B
Pembahasan:
Jika kadar ADH normal tetapi reabsorpsi air tidak terjadi, berarti tubulus distal tidak mampu merespons ADH karena reseptornya bermasalah.
Soal 17: Seorang pasien mengalami kerusakan pada tubulus kontortus distal akibat infeksi ginjal. Kondisi tersebut diperkirakan akan memengaruhi proses augmentasi. Dampak yang paling tepat terhadap komposisi urin pasien adalah …
- A. Urin mengandung protein dalam jumlah besar
- B. Urin tidak mengandung urea
- C. Berkurangnya pengeluaran ion H⁺ dan K⁺ melalui urin
- D. Tidak terbentuk urin primer
- E. Reabsorpsi glukosa terganggu
Jawaban: C
Pembahasan:
Augmentasi terjadi di tubulus kontortus distal dan berfungsi menambahkan zat sisa seperti ion H⁺ dan K⁺ ke dalam urin. Kerusakan pada bagian ini menyebabkan pengeluaran ion-ion tersebut berkurang.
Soal 18: Ginjal berperan penting dalam menjaga kestabilan lingkungan internal tubuh. Selain menyaring darah dan menyerap kembali zat yang masih dibutuhkan, ginjal juga menambahkan zat sisa metabolisme, ion H⁺, K⁺, serta sisa obat-obatan ke dalam filtrat melalui proses augmentasi. Proses ini memastikan zat-zat yang bersifat toksik tidak tertimbun di dalam darah dan dapat dikeluarkan bersama urin. Jika proses augmentasi pada ginjal tidak berlangsung secara optimal, maka kondisi yang paling berisiko terjadi pada tubuh adalah …
- A. Kekurangan cairan tubuh
- B. Penumpukan zat sisa metabolisme dalam darah
- C. Kegagalan pembentukan urin primer
- D. Penurunan reabsorpsi glukosa
- E. Kerusakan glomerulus
Jawaban: B
Pembahasan:
Augmentasi berfungsi membuang zat sisa metabolisme dan obat-obatan ke dalam urin. Jika proses ini terganggu, zat sisa akan menumpuk dalam darah dan dapat bersifat toksik.
Soal 19: Seorang pasien mengonsumsi antibiotik penisilin dalam jangka panjang. Ginjal berperan penting dalam pengeluaran obat tersebut melalui urin. Proses yang paling berperan dalam kondisi ini adalah …
- A. Filtrasi di glomerulus
- B. Reabsorpsi di tubulus proksimal
- C. Augmentasi di tubulus kontortus distal
- D. Difusi di lengkung Henle
- E. Osmosis di pelvis renalis
Jawaban: C
Pembahasan:
Obat-obatan seperti penisilin dikeluarkan ke dalam urin melalui proses augmentasi, yaitu penambahan zat tertentu dari darah ke filtrat di tubulus kontortus distal.
Soal 20: Ginjal mampu menjaga keseimbangan ion dalam tubuh meskipun seseorang mengonsumsi makanan tinggi garam. Mekanisme yang paling berperan dalam kondisi tersebut adalah …
- A. Filtrasi di glomerulus
- B. Reabsorpsi air di tubulus proksimal
- C. Augmentasi kelebihan ion di tubulus distal
- D. Osmosis di lengkung Henle
- E. Difusi pasif di ureter
Jawaban: C
Pembahasan:
Kelebihan ion dan garam dalam darah dapat dikeluarkan melalui proses augmentasi di tubulus kontortus distal sehingga keseimbangan ion tubuh tetap terjaga.
Soal 21: Peningkatan ion H⁺ dalam darah dapat menyebabkan gangguan keseimbangan asam-basa tubuh. Mekanisme ginjal yang paling berperan untuk menormalkan kondisi tersebut adalah …
- A. Meningkatkan filtrasi glukosa
- B. Menghambat pembentukan urin primer
- C. Mengeluarkan ion H⁺ melalui proses augmentasi
- D. Meningkatkan reabsorpsi protein
- E. Menurunkan tekanan darah
Jawaban: C
Pembahasan:
Augmentasi berperan dalam menjaga keseimbangan asam-basa darah dengan mengeluarkan ion H⁺ ke dalam urin sehingga pH darah dapat dinormalkan.
Soal 22: Seorang pasien diabetes mellitus sering buang air kecil dalam jumlah banyak dan urine yang dihasilkan mengandung glukosa. Keadaan ini terjadi karena …
- A. Filtrasi di glomerulus menurun akibat penyempitan arteriol aferen
- B. Reabsorpsi air meningkat akibat kerja ADH yang berlebihan
- C. Glukosa darah tinggi menyebabkan tekanan osmotik filtrat meningkat
- D. Insulin meningkatkan sekresi air di tubulus kolektivus
- E. Garam mineral tertahan dalam darah
Jawaban: C
Pembahasan:
Glukosa yang tidak terserap kembali meningkatkan tekanan osmotik filtrat sehingga menarik lebih banyak air keluar bersama urine (diuresis osmotik).
Soal 23: Perhatikan beberapa kondisi berikut:
- Minum air dalam jumlah banyak
- Kekurangan hormon ADH
- Suhu lingkungan rendah
- Kadar glukosa darah normal
- Aktivitas fisik berat
Kondisi yang paling memungkinkan menghasilkan urine dalam jumlah banyak dan encer adalah …
- A. 1, 2, dan 3
- B. 1, 3, dan 5
- C. 2, 3, dan 4
- D. 1, 2, dan 5
- E. 3, 4, dan 5
Jawaban: A
Pembahasan:
Minum air dalam jumlah banyak, rendahnya hormon ADH, dan suhu lingkungan rendah menyebabkan reabsorpsi air menurun sehingga urine menjadi lebih banyak dan encer.
Soal 24: Seorang siswa melakukan percobaan minum air garam dengan kadar tinggi. Beberapa jam kemudian, volume urine yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan biasanya. Kesimpulan yang paling tepat dari peristiwa tersebut adalah …
- A. Garam mempercepat kerja insulin
- B. Ginjal meningkatkan filtrasi untuk membuang garam
- C. Tekanan osmotik darah meningkat sehingga reabsorpsi air meningkat
- D. ADH tidak berperan dalam pengaturan air
- E. Stimulus saraf mempercepat pembentukan urine
Jawaban: C
Pembahasan:
Konsentrasi garam yang tinggi meningkatkan tekanan osmotik darah sehingga ginjal mempertahankan lebih banyak air dan volume urine menjadi berkurang.
Soal 25: Seorang atlet ingin menjaga keseimbangan cairan tubuh selama latihan intensif di cuaca panas. Tindakan yang paling tepat untuk menjaga volume urine tetap normal adalah …
- A. Mengurangi minum agar urine tidak terlalu banyak
- B. Mengonsumsi minuman isotonik dan air secara teratur
- C. Menghindari konsumsi garam sepenuhnya
- D. Menghambat kerja hormon ADH
- E. Menunggu rasa haus baru minum
Jawaban: B
Pembahasan:
Minuman isotonik membantu menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga fungsi ginjal tetap optimal dan volume urine normal.
Soal 26 : Seorang pasien mengalami pembengkakan pada kaki dan wajah. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya protein dalam urin dan tekanan darah meningkat. Gangguan yang paling mungkin dialami pasien tersebut adalah …
- A. Diabetes insipidus
- B. Oligouria
- C. Albuminuria akibat nefritis
- D. Diabetes mellitus
- E. Batu ginjal
Jawaban: C
Pembahasan:
Pembengkakan (edema) dan adanya protein dalam urin menunjukkan kerusakan glomerulus. Kerusakan ini menyebabkan albumin keluar bersama urin sehingga tekanan osmotik darah menurun dan cairan tertimbun di jaringan.
Soal 27: Seseorang mengeluarkan urin dalam jumlah sangat banyak hingga mencapai 18–20 liter per hari, namun kadar glukosa dalam darah dan urin normal. Kelainan yang paling tepat menjelaskan kondisi tersebut adalah …
- A. Diabetes mellitus
- B. Diabetes insipidus
- C. Oligouria
- D. Uremia
- E. Hematuria
Jawaban: B
Pembahasan:
Diabetes insipidus terjadi akibat kekurangan hormon ADH sehingga ginjal tidak mampu mereabsorpsi air. Akibatnya, urin dikeluarkan dalam jumlah sangat banyak tanpa disertai glukosa.
Soal 28: Kerusakan glomerulus menyebabkan albumin ikut keluar bersama urin. Dampak jangka panjang yang paling mungkin terjadi jika kondisi ini tidak ditangani adalah …
- A. Penurunan volume urin secara drastis
- B. Gangguan keseimbangan cairan tubuh
- C. Peningkatan produksi hormon ADH
- D. Pengendapan batu kalsium
- E. Peningkatan reabsorpsi glukosa
Jawaban: B
Pembahasan:
Kehilangan albumin menurunkan tekanan osmotik darah sehingga cairan mudah keluar ke jaringan. Kondisi ini menyebabkan gangguan keseimbangan cairan tubuh dan memicu edema.
Soal 29: Infeksi bakteri Streptococcus dapat memicu reaksi imun yang menyerang glomerulus ginjal. Peradangan pada bagian ini menyebabkan meningkatnya permeabilitas membran filtrasi sehingga protein plasma ikut keluar bersama urin. Kondisi tersebut berdampak pada perubahan keseimbangan cairan dalam jaringan tubuh dan dapat menimbulkan edema.
- A. Infeksi meningkatkan filtrasi glukosa sehingga air tertahan
- B. Kerusakan tubulus menghambat sekresi ion natrium
- C. Kerusakan glomerulus menyebabkan protein darah keluar sehingga tekanan osmotik menurun
- D. Infeksi memicu kerja ADH berlebihan
- E. Penurunan hormon insulin meningkatkan volume darah
Jawaban: C
Pembahasan:
Infeksi Streptococcus pada nefritis merusak glomerulus. Protein darah keluar bersama urin sehingga tekanan osmotik menurun dan cairan tertimbun di jaringan, menyebabkan edema.
Soal 30: Akumulasi zat sisa metabolisme nitrogen seperti ureum dan kreatinin dalam darah dapat terjadi ketika fungsi ekskresi ginjal mengalami gangguan berat. Kondisi ini menyebabkan berbagai keluhan sistemik, mulai dari mual, gangguan kesadaran, hingga gangguan keseimbangan elektrolit. Jika tidak segera ditangani, keadaan tersebut berisiko menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa. Kondisi tersebut dikenal sebagai uremia. Tindakan medis yang dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut adalah …
- A. Pemberian insulin secara berkala
- B. Peningkatan konsumsi protein
- C. Terapi cuci darah untuk menggantikan fungsi ginjal
- D. Pembatasan asupan air secara total
- E. Pemberian antibiotik ringan
Jawaban: C
Pembahasan:
Uremia terjadi karena ginjal tidak mampu menyaring urea. Cuci darah berfungsi menggantikan peran ginjal dalam menyaring zat sisa metabolisme dari darah.
Soal 31: Produksi urin yang sangat rendah bahkan mendekati nol dalam kurun waktu tertentu menandakan adanya gangguan berat pada proses filtrasi atau aliran urin di ginjal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kerusakan nefron, penyumbatan saluran kemih, atau gangguan aliran darah ke ginjal. Berdasarkan kondisi tersebut, kelainan yang paling tepat untuk menjelaskan keadaan tersebut serta dampaknya terhadap fungsi ginjal adalah …
- A. Poliuria, karena terjadi peningkatan laju filtrasi glomerulus akibat tekanan darah tinggi
- B. Oliguria, karena ginjal masih mampu menghasilkan urin dalam jumlah normal
- C. Anuria, karena proses filtrasi darah di glomerulus hampir tidak berlangsung
- D. Hematuria, karena terjadi kebocoran sel darah merah ke dalam urin
- E. Glukosuria, karena reabsorpsi glukosa di tubulus proksimal terganggu
Jawaban: C
Pembahasan:
Kondisi produksi urin yang sangat rendah hingga hampir tidak ada urin yang keluar disebut anuria. Keadaan ini menunjukkan gangguan berat pada fungsi ginjal, terutama pada proses filtrasi di glomerulus atau adanya hambatan total pada aliran urin.
Soal 32: Ditemukannya urin yang bercampur darah menunjukkan adanya gangguan pada glomerulus sehingga membran filtrasi kehilangan sifat selektifnya. Apabila kerusakan tersebut berlangsung terus-menerus tanpa penanganan, fungsi penyaringan darah oleh ginjal akan semakin terganggu...
- A. Penurunan kadar urea darah
- B. Gangguan proses filtrasi darah
- C. Peningkatan reabsorpsi air
- D. Produksi urin berlebih
- E. Penurunan tekanan darah
Jawaban: B
Pembahasan:
Hematuria menunjukkan kerusakan glomerulus. Jika dibiarkan, kemampuan ginjal dalam menyaring darah akan semakin menurun.
Soal 33: Dalam sistem ekskresi, ginjal berperan menyaring zat sisa metabolisme dari darah untuk dikeluarkan bersama urin. Dalam kondisi tertentu, zat sisa tersebut dapat mengendap dan membentuk kristal yang lama-kelamaan membesar menjadi batu ginjal. Proses pembentukan batu ginjal ini dapat berlangsung lebih cepat apabila terdapat faktor tertentu yang memengaruhi komposisi dan volume urin. “Faktor yang paling berperan dalam mempercepat proses pembentukan batu ginjal adalah …”
- A. Kekurangan hormon insulin
- B. Konsumsi air yang cukup
- C. Kurangnya asupan cairan dalam jangka panjang
- D. Produksi ADH yang normal
- E. Reabsorpsi glukosa maksimal
Jawaban: C
Pembahasan:
Kekurangan cairan menyebabkan urin menjadi pekat sehingga zat sisa mudah mengendap dan membentuk batu ginjal.
Soal 34: Kerusakan ginjal yang berlangsung lama menyebabkan organ tersebut tidak mampu lagi menyaring zat sisa metabolisme dan menjaga keseimbangan cairan serta elektrolit dalam tubuh. Dalam kondisi ini, diperlukan suatu tindakan medis yang dilakukan secara berkala untuk menggantikan fungsi ginjal yang terganggu. Pernyataan yang paling tepat menjelaskan tujuan utama tindakan tersebut adalah …
- A. Menghancurkan batu ginjal
- B. Mengganti fungsi filtrasi ginjal
- C. Menurunkan kadar hormon ADH
- D. Meningkatkan produksi urin
- E. Menghilangkan infeksi bakteri
Jawaban: B
Pembahasan:
Pada gagal ginjal, fungsi penyaringan darah terganggu. Cuci darah berfungsi menggantikan proses filtrasi yang tidak mampu dilakukan ginjal.
Soal 35: Kadar glukosa darah yang sangat tinggi dalam waktu lama dapat memengaruhi kerja ginjal. Pada kondisi tertentu, glukosa yang seharusnya direabsorpsi di tubulus ginjal justru ditemukan ikut terbuang bersama urin. Kesimpulan yang paling tepat terkait hubungan ginjal dan kondisi tersebut adalah …
- A. Ginjal gagal menyerap kembali air
- B. Ambang reabsorpsi glukosa ginjal terlampaui
- C. Kerusakan glomerulus menyebabkan darah keluar
- D. ADH tidak diproduksi dengan baik
- E. Urea tidak dapat disekresikan
Jawaban: B
Pembahasan:
Kadar glukosa darah yang tinggi melebihi kemampuan ginjal untuk mereabsorpsi glukosa, sehingga glukosa ikut keluar bersama urin.
Soal 36: Seorang pasien mengalami penyumbatan saluran empedu sehingga empedu tidak dapat dialirkan ke usus. Berdasarkan proses pembentukan zat warna empedu, kondisi yang paling mungkin terjadi adalah …
- A. Peningkatan kadar globin dalam darah
- B. Penurunan kadar Fe dalam sumsum tulang
- C. Penurunan pembentukan urobilin dalam feses
- D. Peningkatan sintesis hemoglobin baru
- E. Akumulasi biliverdin di sumsum tulang
Jawaban: C
Pembahasan:
Penyumbatan saluran empedu menyebabkan bilirubin dan biliverdin tidak dapat masuk ke usus. Akibatnya, urobilin yang memberi warna coklat pada feses tidak terbentuk sehingga jumlahnya menurun.
Soal 37: Dalam tubuh manusia, eritrosit memiliki masa hidup terbatas. Setelah melewati masa fungsinya, eritrosit akan dikenali sebagai sel tua atau rusak dan kemudian ditangkap oleh sel histiosit yang terdapat di hati dan limpa. Selanjutnya, hemoglobin dari eritrosit tersebut diuraikan menjadi beberapa komponen yang masih dapat dimanfaatkan kembali oleh tubuh, sedangkan sisa perombakannya akan dikeluarkan melalui sistem ekskresi. Proses ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan jumlah sel darah serta mencegah penumpukan zat sisa yang bersifat toksik. Namun, pada kondisi tertentu, mekanisme penangkapan eritrosit tua oleh histiosit tidak berjalan optimal. Hal ini menyebabkan perubahan pada tahapan lanjutan proses perombakan hemoglobin dan pengelolaan zat sisa metabolisme darah. Jika proses penangkapan eritrosit tua oleh histiosit terganggu, maka dampak lanjutan yang paling tepat adalah …
- A. Produksi empedu meningkat tajam
- B. Pembentukan bilirubin berkurang
- C. Penyimpanan Fe di hati meningkat
- D. Sintesis imunoglobulin meningkat
- E. Pengeluaran biliverdin melalui urin meningkat
Jawaban: B
Pembahasan:
Bilirubin berasal dari perombakan hemin hasil degradasi eritrosit tua. Jika eritrosit tidak tertangkap dan dirombak dengan baik, pembentukan bilirubin akan berkurang.
Soal 38: Hemoglobin dalam eritrosit tersusun atas dua komponen utama, yaitu hemin dan globin. Ketika eritrosit telah tua atau rusak, hemoglobin akan diuraikan menjadi bagian-bagian penyusunnya. Komponen globin berupa protein dapat dimanfaatkan kembali oleh tubuh untuk berbagai kebutuhan, sedangkan komponen lain akan diproses lebih lanjut melalui mekanisme yang melibatkan hati dan organ terkait. Fungsi hati dalam metabolisme protein memang sangat penting, namun pemanfaatan kembali hasil perombakan hemoglobin tidak hanya bergantung pada satu organ saja. Dalam suatu diskusi kelas, seorang siswa menyatakan bahwa kerusakan hati akan langsung menyebabkan anemia berat karena globin tidak dapat digunakan kembali oleh tubuh. Penilaian yang paling tepat terhadap pernyataan tersebut adalah …
- A. Benar, karena globin hanya dapat dimanfaatkan oleh hati
- B. Salah, karena globin tidak berperan dalam pembentukan Hb
- C. Salah, karena anemia lebih terkait gangguan Fe
- D. Benar, karena globin adalah komponen utama empedu
- E. Benar, karena hati satu-satunya organ pembentuk protein
Jawaban: C
Pembahasan:
Anemia lebih erat kaitannya dengan ketersediaan zat besi (Fe) untuk pembentukan eritrosit. Globin masih dapat disintesis dari asam amino lain, sehingga pernyataan siswa kurang tepat.
Soal 39:Eritrosit yang telah tua atau rusak akan mengalami proses perombakan di dalam tubuh. Pada proses ini, hemoglobin diuraikan menjadi beberapa komponen yang selanjutnya mengalami perubahan kimia secara bertahap. Sebagian hasil perombakan tersebut akan diproses di hati, dikeluarkan bersama empedu ke dalam usus, dan mengalami perubahan lebih lanjut oleh aktivitas mikroorganisme usus. Hasil akhir dari rangkaian proses tersebut berperan dalam memberikan warna khas pada feses manusia. Proses perubahan zat tersebut tidak terjadi secara acak, melainkan mengikuti urutan tertentu yang saling berkaitan antara sistem peredaran darah, hati, dan sistem pencernaan. Urutan perubahan zat hasil perombakan hemoglobin yang benar hingga memengaruhi warna feses adalah … Urutan perubahan zat hasil perombakan hemoglobin yang benar hingga memengaruhi warna feses adalah …
- A. Hemoglobin → globin → bilirubin → urobilin
- B. Hemoglobin → hemin → bilirubin → urobilin
- C. Hemin → Fe → biliverdin → urobilin
- D. Hemoglobin → Fe → bilirubin → biliverdin
- E. Hemin → globin → bilirubin → urobilin
Jawaban: B
Pembahasan:
Hemoglobin dirombak menjadi hemin, kemudian diubah menjadi bilirubin/biliverdin. Di usus, bilirubin akan dioksidasi menjadi urobilin yang memberi warna coklat pada feses.
Soal 40: Hati merupakan organ vital yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan zat di dalam tubuh. Selain berfungsi dalam metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak, hati juga terlibat dalam proses penetralan racun dan pengolahan sisa metabolisme. Zat-zat berbahaya seperti obat-obatan, alkohol, serta hasil perombakan sel darah merah diproses di hati sebelum dikeluarkan dari tubuh. Beberapa hasil proses tersebut akan dikeluarkan bersama empedu, sedangkan yang lain dialirkan ke ginjal untuk diekskresikan melalui urin.Manakah pernyataan berikut yang paling tepat menjelaskan hubungan hati dengan sistem ekskresi?
- A. Hati hanya berfungsi menyaring racun dari darah
- B. Hati mengubah zat sisa metabolisme menjadi senyawa tak berguna
- C. Hati mengeluarkan sisa metabolisme eritrosit melalui empedu
- D. Hati berfungsi utama menghasilkan urin
- E. Hati menyimpan urobilin untuk dikeluarkan melalui ginjal
Jawaban: C
Pembahasan:
Hati berperan sebagai organ ekskresi dengan mengeluarkan sisa perombakan eritrosit berupa bilirubin dan biliverdin melalui empedu ke usus.
Soal 41: Jika seorang peneliti ingin menurunkan kadar bilirubin darah pada pasien ikterus, strategi yang paling logis berdasarkan mekanisme ekskresi empedu adalah …
- A. Meningkatkan perombakan eritrosit
- B. Menghambat penyimpanan Fe di hati
- C. Memperlancar aliran empedu ke usus
- D. Menghambat pembentukan globin
- E. Menurunkan sintesis protein hati
Jawaban: C
Pembahasan:
Ikterus terjadi akibat penumpukan bilirubin dalam darah. Memperlancar aliran empedu akan membantu mengeluarkan bilirubin ke usus sehingga kadarnya menurun.
Soal 42: Seorang pasien mengalami gangguan pada fungsi hati sehingga produksi dan aliran empedu ke usus halus terhambat. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan adanya penumpukan bilirubin dalam darah, sementara warna feses pasien tampak lebih pucat dari kondisi normal. Padahal, pada kondisi normal empedu berperan dalam proses pencernaan lemak sekaligus membawa zat warna empedu hasil perombakan eritrosit tua ke dalam usus. Hubungan antara fungsi hati, empedu, dan warna feses dapat disimpulkan secara tepat dalam pernyataan …
- A. Empedu memberi warna hijau permanen pada feses
- B. Bilirubin langsung memberi warna coklat pada feses
- C. Urobilin hasil oksidasi bilirubin memengaruhi warna feses
- D. Globin menentukan warna feses melalui empedu
- E. Fe memberi warna gelap pada feses
Jawaban: C
Pembahasan:
Urobilin merupakan hasil oksidasi bilirubin di usus yang berperan memberi warna kuning kecoklatan pada feses.
Berdasarkan tabel tersebut, analisis yang paling tepat mengenai keterkaitan proses deaminasi dan siklus urea adalah …
- A. Deaminasi menghasilkan urea yang langsung dikeluarkan oleh ginjal
- B. Amonia hasil deaminasi harus diubah menjadi urea karena bersifat toksik
- C. Rangka karbon asam amino hanya berfungsi membentuk urea
- D. Siklus urea terjadi di ginjal untuk menyaring zat sisa metabolisme
- E. Amonia merupakan zat sisa yang aman bagi sel hati
Jawaban: B
Pembahasan:
Ornitin berperan dalam siklus urea untuk mengikat amonia yang bersifat toksik sehingga dapat diproses lebih lanjut menjadi urea yang aman untuk diekskresikan.
- A. Penurunan pembentukan asam amino esensial
- B. Penumpukan urea di hati
- C. Penumpukan amonia dalam darah
- D. Meningkatnya ekskresi empedu
- E. Terhambatnya filtrasi darah di ginjal
Jawaban: C
Pembahasan:
Enzim arginase berperan dalam tahap akhir siklus urea untuk menghasilkan urea. Jika aktivitasnya menurun, amonia tidak dapat dinetralkan sehingga menumpuk dalam darah.
- A. Ginjal tidak mampu menyaring urea
- B. Amonia tetap aman selama berada di hati
- C. Deaminasi tidak menghasilkan zat beracun
- D. Urea gagal terbentuk sehingga amonia meningkat
- E. Ornitin diubah langsung menjadi empedu
Jawaban: D
Pembahasan:
Gangguan fungsi hati menghambat siklus urea sehingga amonia tidak dapat diubah menjadi urea. Akibatnya, kadar amonia meningkat dan bersifat toksik bagi tubuh.
- A. Urea lebih mudah diserap kembali oleh usus
- B. Amonia bersifat toksik bagi sistem saraf
- C. Urea meningkatkan metabolisme protein
- D. Amonia diperlukan untuk pembentukan empedu
- E. Urea mempercepat kerja enzim hati
Jawaban: B
Pembahasan:
Amonia merupakan zat sisa metabolisme protein yang sangat beracun, terutama bagi sistem saraf. Oleh karena itu, harus diubah menjadi urea yang lebih aman.
- A. Hati dan ginjal bekerja terpisah
- B. Ginjal berperan dalam deaminasi
- C. Hati menetralkan racun nitrogen, ginjal mengekskresikannya
- D. Ginjal membentuk urea, hati mengeluarkannya
- E. Empedu berfungsi utama membuang urea
Jawaban: C
Pembahasan:
Hati berperan mengubah amonia hasil deaminasi menjadi urea, sedangkan ginjal bertugas mengekskresikan urea tersebut melalui urin.
- A. Ascites terjadi karena peningkatan produksi hormon insulin oleh hati
- B. Penumpukan cairan disebabkan oleh kegagalan hati dalam mengatur tekanan osmotik darah
- C. Cairan ascites merupakan hasil kelebihan empedu yang disekresikan ke rongga perut
- D. Ascites terbentuk akibat peningkatan jumlah eritrosit dalam plasma darah
- E. Hati menghasilkan cairan ascites sebagai mekanisme pertahanan tubuh
Jawaban: B
Pembahasan:
Pada gangguan hati seperti sirosis, produksi protein plasma (albumin) menurun sehingga tekanan osmotik darah berkurang. Akibatnya, cairan keluar dari pembuluh darah dan menumpuk di rongga perut sebagai ascites.
Evaluasi yang paling tepat mengenai dampak sirosis terhadap fungsi hati adalah …
- A. Hati tetap mampu mendetoksifikasi racun secara optimal
- B. Aliran darah ke hati terhambat sehingga fungsi metabolisme menurun
- C. Produksi empedu meningkat sebagai kompensasi jaringan parut
- D. Penyerapan zat gizi oleh hati menjadi lebih efektif
- E. Regenerasi sel hati berlangsung lebih cepat
Jawaban: B
Pembahasan:
Pada sirosis, jaringan parut menggantikan jaringan hati normal sehingga menghambat aliran darah dan menurunkan kemampuan hati dalam metabolisme, detoksifikasi, serta sintesis zat penting.
- A. Hati memproduksi bilirubin berlebihan akibat gangguan pankreas
- B. Peradangan hati menghambat pengolahan dan ekskresi bilirubin
- C. Empedu dihasilkan normal tetapi tidak disimpan di kantong empedu
- D. Eritrosit baru terbentuk terlalu cepat sehingga bilirubin meningkat
- E. Penyerapan bilirubin di usus meningkat drastis
Jawaban: B
Pembahasan:
Hepatitis menyebabkan peradangan sel hati sehingga proses konjugasi dan pengeluaran bilirubin terganggu. Akibatnya, bilirubin menumpuk dalam darah dan menimbulkan gejala jaundice.
Soal 51: Perhatikan ilustrasi berikut.
Evaluasi yang tepat mengenai dampak utama kondisi tersebut terhadap proses pencernaan adalah …
- A. Pencernaan protein terganggu di lambung
- B. Pencernaan lemak di usus halus menjadi tidak optimal
- C. Penyerapan vitamin larut air menurun drastis
- D. Aktivitas enzim amilase meningkat
- E. Produksi glikogen oleh hati terhenti
Jawaban: B
Pembahasan:
Batu empedu menghambat aliran empedu ke usus halus, padahal empedu berperan dalam emulsi lemak. Akibatnya, proses pencernaan dan penyerapan lemak menjadi terganggu.
Soal 52: Seorang pria berusia 45 tahun didiagnosis menderita hepatitis kronis sejak beberapa tahun lalu. Meskipun telah mendapat edukasi medis, ia tetap mengonsumsi alkohol secara rutin dalam jangka panjang. Alkohol diketahui dapat memperberat kerusakan sel-sel hati dan memicu peradangan berkelanjutan. Akibatnya, terjadi sirosis hati yang terus berkembang hingga akhirnya pasien didiagnosis mengalami kanker hati (karsinoma hepatoseluler). Berdasarkan kasus tersebut, tindakan pencegahan sejak tahap awal penyakit sangat menentukan untuk menghentikan progresivitas kerusakan hati.
- A. Mengurangi asupan karbohidrat dan lemak
- B. Menghentikan konsumsi alkohol dan melakukan pemantauan fungsi hati
- C. Mengonsumsi suplemen zat besi dosis tinggi
- D. Meningkatkan aktivitas fisik berat secara rutin
- E. Menghindari konsumsi protein hewani
Jawaban: B
Pembahasan:
Alkohol mempercepat kerusakan sel hati pada penderita hepatitis kronis. Penghentian alkohol serta pemantauan fungsi hati secara rutin dapat mencegah perkembangan menjadi sirosis dan kanker hati.
- A. Pembuluh darah kulit melebar untuk meningkatkan pelepasan panas
- B. Kelenjar keringat tetap aktif untuk menjaga keseimbangan cairan
- C. Pembuluh darah kulit menyempit untuk mengurangi kehilangan panas
- D. Lapisan epidermis meningkatkan produksi melanin
- E. Hipodermis mengeluarkan lemak melalui pori-pori
Jawaban: C
Pembahasan:
Pada suhu dingin, pembuluh darah di kulit mengalami vasokonstriksi (menyempit) untuk mengurangi pelepasan panas sehingga suhu tubuh tetap stabil.
- A. Proses pengelupasan sel kulit mati
- B. Pembentukan sel kulit baru
- C. Persepsi rasa panas dan dingin
- D. Produksi keringat dan minyak
- E. Penyimpanan cadangan lemak
Jawaban: B
Pembahasan:
Stratum germinativum berfungsi membentuk sel-sel kulit baru. Kerusakan lapisan ini menghambat regenerasi epidermis sehingga penyembuhan luka menjadi sulit.
Evaluasi yang paling tepat mengenai dampak gangguan tersebut adalah …
- A. Tidak mampu merasakan sentuhan halus
- B. Tidak mampu merasakan perubahan suhu panas
- C. Tidak mampu merasakan tekanan kuat
- D. Tidak mampu merasakan nyeri tajam
- E. Tidak mampu menghasilkan keringat
Jawaban: C
Pembahasan:
Korpuskulus Pacini berfungsi sebagai reseptor tekanan kuat. Kerusakan pada reseptor ini menyebabkan individu sulit merasakan tekanan atau getaran.
- A. Penurunan tekanan darah secara drastis
- B. Hipotermia akibat penguapan air
- C. Peningkatan suhu tubuh yang berlebihan
- D. Penurunan produksi vitamin D
- E. Gangguan pembentukan melanin
Jawaban: C
Pembahasan:
Keringat berfungsi membawa panas keluar dari tubuh. Jika proses ini terganggu, suhu tubuh dapat meningkat drastis dan menyebabkan hipertermia.
- A. Meningkatkan konsumsi makanan berlemak
- B. Mengoleskan minyak pada permukaan kulit
- C. Memberikan paparan sinar matahari pagi secara cukup
- D. Mengurangi aktivitas kelenjar keringat
- E. Menjaga kulit tetap lembap sepanjang hari
Jawaban: C
Pembahasan:
Kulit berperan dalam pembentukan vitamin D dari provitamin D dengan bantuan sinar ultraviolet. Vitamin D penting untuk penyerapan kalsium dan pertumbuhan tulang.
- A. Produksi keringat yang berlebihan oleh kelenjar keringat
- B. Aktivitas kelenjar minyak yang tinggi disertai penyumbatan pori
- C. Kerusakan jaringan epidermis akibat sinar UV
- D. Penurunan jumlah melanin pada kulit wajah
- E. Reaksi alergi terhadap sabun pembersih
Jawaban: B
Pembahasan:
Jerawat terjadi karena kelenjar minyak menghasilkan sebum berlebih yang menyumbat pori-pori bersama sel kulit mati, sehingga memicu pertumbuhan bakteri dan peradangan.
- A. Eksim hanya disebabkan oleh virus sehingga tidak berhubungan dengan kebiasaan menggaruk
- B. Garukan mempercepat regenerasi kulit sehingga ruam cepat sembuh
- C. Garukan merusak lapisan kulit sehingga mempermudah masuknya mikroorganisme
- D. Eksim disebabkan oleh kekurangan melanin pada kulit
- E. Eksim terjadi karena produksi minyak berlebihan
Jawaban: C
Pembahasan:
Menggaruk merusak lapisan pelindung kulit sehingga bakteri atau jamur mudah masuk dan menyebabkan infeksi sekunder pada eksim.
Seorang siswa mengeluhkan munculnya bercak putih tidak merata pada area punggung dan dada. Bercak tersebut tidak terasa gatal, tetapi tampak semakin jelas setelah berkeringat. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya infeksi jamur yang memengaruhi produksi pigmen melanin pada kulit. Penjelasan biologis yang paling tepat mengenai mekanisme terjadinya panu pada kasus tersebut adalah …
- A. Jamur merusak kelenjar keringat sehingga kulit kehilangan air
- B. Jamur menghambat produksi melanin sehingga muncul bercak putih
- C. Virus menghancurkan sel-sel epidermis
- D. Bakteri menginfeksi folikel rambut
- E. Tungau menggali lapisan kulit
Jawaban: B
Pembahasan:
Panu disebabkan oleh infeksi jamur yang mengganggu produksi atau distribusi melanin, sehingga muncul bercak putih yang kontras dengan kulit normal.
Mekanisme penularan yang paling mungkin terjadi pada kasus tersebut adalah …
- A. Penularan melalui udara oleh virus
- B. Penularan melalui makanan yang terkontaminasi
- C. Penularan melalui kontak langsung dan benda pribadi yang terkontaminasi
- D. Penularan melalui air minum
- E. Penularan melalui gigitan nyamuk
Jawaban: C
Pembahasan:
Kudis disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei yang sangat mudah menular melalui kontak fisik langsung maupun penggunaan pakaian dan handuk bersama.
Seorang pasien pernah mengalami herpes dengan munculnya ruam berisi cairan pada kulit. Setelah mendapatkan pengobatan, ruam tersebut sembuh. Namun, beberapa waktu kemudian ruam yang serupa kembali muncul di lokasi yang sama, terutama saat pasien mengalami kelelahan dan stres. Analisis yang paling tepat untuk menjelaskan kondisi tersebut adalah …
- A. Virus herpes selalu mati setelah pengobatan
- B. Virus bersembunyi dalam jaringan saraf dan dapat aktif kembali
- C. Virus hanya menyerang lapisan epidermis
- D. Kekambuhan disebabkan oleh jamur sekunder
- E. Herpes disebabkan oleh bakteri yang resisten antibiotik
Jawaban: B
Pembahasan:
Virus herpes dapat berdiam (laten) di jaringan saraf seperti tulang belakang dan dapat aktif kembali ketika daya tahan tubuh menurun, sehingga penyakit sering kambuh.
Seorang penderita vitiligo mengalami bercak putih yang semakin meluas, tetapi tidak disertai rasa gatal atau infeksi. Kesimpulan paling tepat mengenai penyebab utama kondisi tersebut adalah …
- A. Infeksi jamur yang merusak epidermis
- B. Kerusakan kelenjar minyak
- C. Kematian atau gangguan fungsi sel penghasil melanin
- D. Serangan tungau pada lapisan dermis
- E. Produksi keringat yang berlebihan
Jawaban: C
Pembahasan:
Vitiligo terjadi karena sel melanosit yang memproduksi melanin berhenti berfungsi atau mati, sehingga warna kulit menghilang dan terbentuk bercak putih.
Analisis yang paling tepat mengenai hubungan struktur alveolus dengan fungsinya dalam sistem ekskresi adalah …
- A. Alveolus berdinding tebal untuk mencegah keluarnya uap air
- B. Permukaan alveolus sempit agar pertukaran gas berlangsung lambat
- C. Dinding alveolus tipis untuk mempercepat difusi CO2 dan H2O
- D. Alveolus berfungsi menyimpan oksigen sebelum diedarkan ke tubuh
- E. Kapiler di alveolus berfungsi menyaring racun nitrogen
Jawaban: C
Pembahasan:
Dinding alveolus yang sangat tipis dan lembap memungkinkan terjadinya difusi gas secara cepat, termasuk pengeluaran CO2 dan uap air sebagai hasil ekskresi melalui paru-paru.
- A. Pengeluaran CO2 meningkat karena alveolus membesar
- B. Difusi gas terganggu karena luas permukaan efektif alveolus berkurang
- C. Uap air dikeluarkan lebih banyak melalui paru-paru
- D. Oksigen lebih cepat berikatan dengan hemoglobin
- E. Paru-paru mampu berkontraksi lebih kuat
Jawaban: B
Pembahasan:
Pada emfisema, alveolus membesar dan kehilangan elastisitas sehingga luas permukaan efektif untuk pertukaran gas menurun. Akibatnya, pengeluaran CO2 sebagai zat sisa metabolisme menjadi tidak optimal.
- A. Asbes meningkatkan produksi lendir sehingga mempercepat ekskresi
- B. Asbes merusak alveolus sehingga menghambat difusi gas
- C. Asbes memperkuat jaringan pleura agar paru-paru lebih elastis
- D. Asbes mengaktifkan enzim ekskresi di paru-paru
- E. Asbes membantu pengikatan CO2 oleh eritrosit
Jawaban: B
Pembahasan:
Paparan debu asbes dapat merusak jaringan alveolus dan menyebabkan kanker paru-paru, sehingga proses pertukaran dan pengeluaran gas seperti CO2 dan uap air terganggu.
- A. Alveolus mengalami pembengkakan akibat infeksi
- B. Radang pleura meningkatkan gesekan antar selaput paru-paru
- C. Bronkiolus menyempit sehingga udara sulit masuk
- D. Hemoglobin gagal mengikat oksigen
- E. Produksi uap air meningkat di alveolus
Jawaban: B
Pembahasan:
Pleuritis menyebabkan peradangan pada pleura sehingga gesekan antara dua lapisan pleura meningkat saat paru-paru mengembang, menimbulkan rasa nyeri ketika bernapas dalam.
- A. Darah menjadi lebih basa karena kelebihan oksigen
- B. Terjadi asidosis akibat penumpukan CO2 dalam darah
- C. Produksi urea di hati meningkat drastis
- D. Ginjal menghentikan proses filtrasi darah
- E. Eritrosit kehilangan kemampuan mengikat oksigen
Jawaban: B
Pembahasan:
Penumpukan CO2 dalam darah akan membentuk asam karbonat sehingga menurunkan pH darah (asidosis), yang dapat mengganggu kerja enzim dan fungsi sel tubuh.
- A. Laju difusi urea meningkat karena membran bersifat semipermeabel
- B. Proses osmosis air ke dialisat berlangsung lebih cepat
- C. Pemindahan urea dari darah menjadi tidak efektif
- D. Ultrafiltrasi berlangsung maksimal karena tekanan darah tinggi
- E. Elektrolit darah akan berdifusi ke arah darah
Jawaban: C
Pembahasan:
Difusi bergantung pada perbedaan konsentrasi. Jika perbedaan kadar urea antara darah dan dialisat kecil, maka perpindahan urea melalui membran dialisis menjadi tidak optimal.
Dialyzer A: darah dan dialisat mengalir searah
Dialyzer B: darah dan dialisat mengalir berlawanan arah
Berdasarkan prinsip difusi, evaluasi yang paling tepat mengenai efektivitas kedua dialyzer tersebut adalah …
- A. Dialyzer A lebih efektif karena aliran sejajar mempercepat filtrasi
- B. Dialyzer B lebih efektif karena mempertahankan gradien konsentrasi
- C. Keduanya sama efektif karena menggunakan membran semipermeabel
- D. Dialyzer A hanya efektif untuk osmosis, bukan difusi
- E. Dialyzer B menghambat ultrafiltrasi cairan
Jawaban: B
Pembahasan:
Aliran berlawanan arah (countercurrent) mempertahankan perbedaan konsentrasi sepanjang membran sehingga difusi zat sisa metabolisme berlangsung lebih optimal.
- A. Mencegah osmosis air keluar dari dialisat
- B. Memaksimalkan difusi zat sisa tanpa mengganggu keseimbangan elektrolit
- C. Mempercepat pembentukan urea baru dalam darah
- D. Menghambat kerja membran semipermeabel
- E. Mengurangi tekanan hidrostatik dalam darah
Jawaban: B
Pembahasan:
Kadar urea dan kreatinin yang rendah dalam dialisat menciptakan gradien difusi, sedangkan kesamaan ion penting mencegah gangguan keseimbangan elektrolit tubuh.
- A. Ginjal donor tidak mampu menyaring darah resipien
- B. Limfosit T mengenali antigen donor sebagai benda asing
- C. Produksi antibodi terhadap urea meningkat
- D. Neuron sensorik merespons protein asing
- E. Sel darah merah menghancurkan jaringan ginjal
Jawaban: B
Pembahasan:
Sistem imun resipien, khususnya limfosit T, mengenali antigen pada ginjal donor sebagai benda asing sehingga memicu reaksi penolakan terhadap organ transplantasi.
- A. Mempercepat proses osmosis cairan tubuh
- B. Mengurangi risiko penolakan oleh sistem imun
- C. Meningkatkan produksi keringat pada area luka
- D. Mempercepat pembelahan sel darah merah
- E. Mengurangi kebutuhan suplai darah ke jaringan
Jawaban: B
Pembahasan:
Penggunaan kulit dari tubuh sendiri (autograft) menghindari respons imun karena jaringan tersebut dikenali sebagai bagian dari tubuh sehingga risiko penolakan sangat kecil.
Proses yang terjadi pada bagian Y dan jenis urin yang dihasilkannya adalah …
- A. Filtrasi, urin primer
- B. Filtrasi, urin sekunder
- C. Reabsorpsi, urin primer
- D. Reabsorpsi, urin sekunder
- E. Augmentasi, urin sesungguhnya
Jawaban: A
Pembahasan:
Bagian Y adalah glomerulus, tempat terjadinya proses filtrasi darah yang menghasilkan urin primer.
Proses yang terjadi pada bagian X adalah …
- A. Penyerapan kembali zat-zat yang masih dibutuhkan tubuh
- B. Pengeluaran zat-zat sisa yang tidak diperlukan tubuh
- C. Pembentukan urin sesungguhnya menuju tubulus kolektivus
- D. Penyaringan zat-zat dalam darah
- E. Pembentukan urin sekunder
Jawaban: A
Pembahasan:
Bagian X merupakan tubulus kontortus proksimal, tempat terjadinya reabsorpsi zat-zat penting seperti glukosa, asam amino, dan air.
Proses yang terjadi pada nomor 2 dan filtrat yang dihasilkan secara berurutan adalah …
- A. Reabsorpsi dan urin primer
- B. Reabsorpsi dan urin sekunder
- C. Filtrasi dan urin primer
- D. Filtrasi dan urin sekunder
- E. Augmentasi dan urin sesungguhnya
Jawaban: B
Pembahasan:
Nomor 2 menunjukkan proses reabsorpsi yang menghasilkan urin sekunder setelah zat berguna diserap kembali ke darah.
Jika terjadi kerusakan pada bagian berlabel X, gangguan yang terjadi adalah …
- A. Diabetes insipidus
- B. Poliuria
- C. Batu ginjal
- D. Albuminaria
- E. Nefritis
Jawaban: D
Pembahasan:
Kerusakan pada glomerulus menyebabkan protein lolos ke urin, kondisi ini disebut albuminaria.
- A. Penyaringan darah di glomerulus
- B. Penyerapan kembali di tubulus distal
- C. Pengumpulan urin primer
- D. Penampungan urin di pelvis renalis
- E. Penyaluran urin di ureter
Jawaban: A
Pembahasan:
Protein seharusnya tidak lolos saat filtrasi. Adanya protein menunjukkan kerusakan pada glomerulus.
- A. Kekurangan hormon ADH
- B. Pengerasan pembuluh darah ginjal
- C. Endapan CaCO3
- D. Endapan garam mineral
- E. Infeksi bakteri Streptococcus
Jawaban: E
Pembahasan:
Nefritis umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus yang merusak glomerulus.
- A. Glomerulus
- B. Kapsula Bowman
- C. Tubulus kolektivus
- D. Tubulus kontortus proksimal
- E. Tubulus kontortus distal
Jawaban: A
Pembahasan:
Reaksi Biuret ungu menandakan adanya protein, yang berarti terjadi kebocoran filtrasi di glomerulus.
- A. Albuminuria
- B. Diabetes mellitus
- C. Diabetes insipidus
- D. Uremia
- E. Batu ginjal
Jawaban: B
Pembahasan:
Warna merah bata pada Fehling menunjukkan adanya glukosa dalam urin, ciri khas diabetes mellitus.
Seorang siswa melakukan pemeriksaan urin menggunakan mikroskop. Hasil pengamatan menunjukkan adanya sejumlah sel darah merah dalam urin. Kondisi ini menandakan bahwa komponen darah yang seharusnya tidak lolos dalam proses pembentukan urin ternyata ikut terbuang bersama urin.
- A. Medula ginjal dan albuminaria
- B. Korteks ginjal dan hematuria
- C. Vesika urinaria dan nefritis
- D. Lengkung Henle dan glikosuria
- E. Badan Malpighi dan hematuria
Jawaban: E
Pembahasan:
Sel darah merah tidak dapat melewati glomerulus normal. Kebocoran di badan Malpighi menyebabkan hematuria.














